Coba

#htmlcaption1 Infeksi jamur merupakan penyakit kulit yang mengganggu penampilan setiap orang, terutama pada bagian yang terlihat oleh orang lain. Lesi dari infeksi jamur memiliki beberapa macam variasi dari satu lesi atau banyak dan berbentuk lingkaran cincin ataupun bersisik. Infeksi jamur memiliki beberapa macam sesuai dengan tempat infeksi yaitu Tinea pedis, Tinea cruris, Tinea corporis, Tinea versicolor, Tinea unguinum, dan Tinea capitis Terdapat 2 cara terapi pengobatan untuk infeksi jamur yaitu terapi non-obat dan obat yang memiliki tujuan untuk menghilangkan gejala dan keluhan pasien.

Minggu, 30 Oktober 2016

Lihat dan Ketahuilah Infeksi Jamur :)

Jamur merupakan salah satu penyebab penyakit infeksi yang sering terjadi dinegara-negara tropis terutama Negara Indonesia. Penyakit kulit akibat jamur sering timbul di tengah masyarakat Indonesia. Hal ini dikarenakan Indonesia merupakan negara beriklim tropis dengan kelembaban udara yang tinggi sehingga mendukung tumbuhnya jamur. Hal ini pula didukung dengan kondisi kulit yang mudah berkeringat dan lembab, masyarakat yang masih kurang peduli akan kebersihan lingkungan, sanitasi, serta pola hidup sehat terutama akan kebersihan diri yang tidak terjaga dan kurangnya pengetahuan tentang kesehatan merupakan faktor yang memungkinkan pertumbuhan jamur penyebab penyakit kulit. 

Infeksi yang disebabkan oleh jamur dibagi menjadi 2 klasifikasi utama yaitu infeksi superfisial dan sistemik. Penyakit jamur pada kulit sering disebut juga dengan tinea. Pada infeksi jamur superfisial dimana jamur tetap dalam lapisan keratinous kulit atau kuku. Pada kenyataannya lesi dari infeksi jamur memiliki beberapa macam variasi dari satu lesi atau banyak dan berbentuk lingkaran cincin ataupun bersisik (Burns et al., 2016).

Penyakit infeksi jamur pada kulit memang sangat meresahkan karena dapat menganggu aktivitas serta membuat berkurangnya rasa kepercayaan diri.Oleh karena itu masyarakat akan melakukan berbagai cara untuk menghilangkan infeksi jamur ini. Timbulnya penyakit infeksi jamur pada kulit yang diderita masyarakat dan banyaknya media yang menonjolkan produk terbaik memotivasi masyarakat untuk memilih pengobatan sendiri sebagai salah satu cara mengatasi gejala tersebut.

Namun, penanganan yang tidak tepat penggunaan obatnya dapat membuat sebuah pengobatan menjadi tidak efektif. Pada pelaksanaannya pengobatan sendiri atau disebut dengan swamedikasi dapat menjadi sumber terjadinya kesalahan pengobatan karena keterbatasan pengetahuan masyarakat akan obat dan penggunaannya. Dalam hal ini apoteker akan membantu masyarakat dalam memberikan informasi yang tepat sehingga kesalahan dalam pengobatan dapat di minimalisir dan meningkatkan efektifitas dari penggunaan obat itu sendiri 



Daftar Pustaka :
Burns, M. A. C., T. L. Schwinghammer, B. G. Wells., P. M. Malone., J. M. Kolesar. and J. T. Dipiro. 2016. Pharmacotherapy: Principles and Practice. 4th Edition. New York: McGraw-Hill Education.