Coba

#htmlcaption1 Infeksi jamur merupakan penyakit kulit yang mengganggu penampilan setiap orang, terutama pada bagian yang terlihat oleh orang lain. Lesi dari infeksi jamur memiliki beberapa macam variasi dari satu lesi atau banyak dan berbentuk lingkaran cincin ataupun bersisik. Infeksi jamur memiliki beberapa macam sesuai dengan tempat infeksi yaitu Tinea pedis, Tinea cruris, Tinea corporis, Tinea versicolor, Tinea unguinum, dan Tinea capitis Terdapat 2 cara terapi pengobatan untuk infeksi jamur yaitu terapi non-obat dan obat yang memiliki tujuan untuk menghilangkan gejala dan keluhan pasien.

Minggu, 30 Oktober 2016

Terapi Non-Obat dan Terapi Obat


Setelah mengenali macam-macam infeksi jamur, penyebab, serta gejalanya, kita harus mengetahui cara pengobatannya agar infeksi jamur ini tidak muncul kembali. Terapi atau pengobatan infeksi jamur dibedakan menjadi terapi non obat dan terapi obat. 


1.Terapi Non-Obat
   Terapi ini merupakan terapi yang dilakukan tanpa menggunakan obat dan mengubah style atau gaya hidup pasien untuk menghindari ataupun memperparah terjadinya infeksi oleh jamur, jadi pasien dapat melakukan hal hal sebagai berikut:
  • Gunakan handuk tersendiri untuk mengeringkan bagian yang terkena infeksi atau bagian yang terinfeksi dikeringkan terakhir untuk mencegah penyebaran infeksi ke bagian tubuh lainnya.
  • Jangan mengunakan handuk, baju, atau benda lainnya secara bergantian dengan orang yang terinfeksi.
  • Cuci handuk dan baju yang terkontaminasi jamur dengan air panas untuk mencegah penyebaran jamur tersebut.
  • Usahakan ganti handuk sebisa mungkin seminggu sekali
  • Bersihkan kulit setiap hari menggunakan sabun dan air untuk menghilangkan sisa-sisa kotoran agar jamur tidak mudah tumbuh.
  • Jika memungkinkan hindari penggunaan baju dan sepatu yang dapat menyebabkan kulit selalu basah seperti bahan wool dan bahan sintetis yang dapat menghambat sirkulasi udara. Disarankan untuk menggunakan pakaian yang tidak terlalu ketat, dan lebih disarankan menggunakan pakaian berbahan katun yang dapat mengurangi kelembapan dengan lebih mudah menyerap keringat.
  • Pakaian yang basah karena keringat lebih baik dilepas/diganti dengan pakaian kering.
  • Sebelum menggunakan sepatu, sebaiknya dilap terlebih dahulu dan bersihkan debu-debu yang menempel pada sepatu
  • Hindari kontak langsung dengan orang yang mengalami infeksi jamur. Gunakan sandal yang terbuat dari bahan kayu dan karet
  • Pencegahan dengan menjaga kebersihan diri dengan mandi 2 kali sehari, menjaga lipatan kulit selalu kering, gunakan baju bersih dan pakai alas kaki.
  • Jangan digaruk karena akan timbul infeksi lain serta area yang terinfeksi tidak boleh diperban


2.Terapi Obat 

   Pengobatan dengan obat pada infeksi jamur secara swamedikasi biasanya membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Contohnya pada infeksi Tinea pedis (Kutu Air) yang paling sering ditemui, membutuhkan waktu pengobatan selama 4 minggu dengan penggunaan obat topikal/oles 2 kali sehari. Pada infeksi Tinea corporis (kadas/kurap), Tinea cruris  (jamur pada selangkangan) dan Panu yang membutuhkan waktu pengobatan selama 2 minggu dengan menggunakan obat topikal/oles 1-2 kali sehari. Pengobatan diharuskan untuk dilanjutkan selama 1 minggu setelah keluhan atau gejala menghilang, ini ditujukan untuk mencegah terjadinya kekambuhan. Berikut ini beberapa zat aktif yang biasa digunakan secara topikal untuk pengobatan infeksi jamur diantaranya sebagai berikut;
  • Asam Salisilat; Mempunyai sifat keratolitik (pengelupasan pada kulit) sehingga memudahkan terserapnya obat antijamur. Penggunaanya dioleskan 2-3 kali sehari.  Hindarkan kontak dengan mulut dan mata. Biasanya efek yang tidak diinginkan merupakan reaksi iritasi kulit.
  • Asam Benzoat; Digunakan pada kuliat yang terinfeksi jamur dan juga mempunyai efek anti bakteri. Aturan pemakaian dengan dioleskan pada kulit 2-3 kali sehari. Efek yang tidak diinginkan biasanya reaksi iritasi kulit.
  • Sulfur; Biasa digunakan dengan kandungan sulfur 3% sampai 10% yang bersifat sebagai keratolitik (pengelupasan pada kulit) dan antibakteri. Digunakan dengan cara dioleskan pada kulit sebanyak 1-3 kali sehari.
  • Golongan azole (mikonazole, ketokonazole, klotrimazole); Topikal azole biasa digunakan dalam mengobati infeksi jamur pada kulit dikarenakan memiliki spectrum luas, memiliki efek antifungal dan antibakteri. Pengobatan biasanya digunakan 2-3 kali sehari. Beberapa golongan azole memiliki efek samping kecil yang dapat menyebabkan terjadinya iritasi ringan pada kulit.
  • Terbinafine; dapat dijumpai dalam bentuk krim, cairan, spray dan gel. Pengobatan dengan menggunakan terbinafine biasanya membutuhkan waktu selama 1 minggu, memiliki kemampuan dalam mencegah kekambuhan lebih baik dibandingkan dengan golongan azole. Efek samping yang dapat disebabkan oleh penggunaan terbinafine adalah kemerahan, gatal dan rasa menyengat pada kulit. Penggunaannya tidak dianjurkan untuk anak kecil.
(Burns et al., 2016; Gupta and Foley, 2015; DiPiro et al., 2008; BPOM RI, 2012)


Daftar Pustaka:

BPOM RI. 2012. Seri Swamedikasi 6: Infeksi Jamur Pada Kulit. InfoPOM. Vol 13 (6). pp:  9-11.

Burns, M. A. C., T. L. Schwinghammer, B. G. Wells., P. M. Malone., J. M. Kolesar. and J. T. Dipiro. 2016. Pharmacotherapy: Principles and Practice. 4th Edition. New York: McGraw-Hill Education. 


Dipiro, J. T., R. L. Talbert., G. C. Yee., G. R. Matzke., B. G. Wells., and L. M. Posey. 2008. Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach. 7h Edition. USA: The McGraw-Hill Companies, Inc.

Gupta, A. K., and K. A. Foley. 2015. Antifungal Treatment for Pityriasis Versicolor. Journal of Fungi. 1. Pp : 13-29

Tidak ada komentar:

Posting Komentar