Coba

#htmlcaption1 Infeksi jamur merupakan penyakit kulit yang mengganggu penampilan setiap orang, terutama pada bagian yang terlihat oleh orang lain. Lesi dari infeksi jamur memiliki beberapa macam variasi dari satu lesi atau banyak dan berbentuk lingkaran cincin ataupun bersisik. Infeksi jamur memiliki beberapa macam sesuai dengan tempat infeksi yaitu Tinea pedis, Tinea cruris, Tinea corporis, Tinea versicolor, Tinea unguinum, dan Tinea capitis Terdapat 2 cara terapi pengobatan untuk infeksi jamur yaitu terapi non-obat dan obat yang memiliki tujuan untuk menghilangkan gejala dan keluhan pasien.

Minggu, 30 Oktober 2016

Swamedikasi oleh Apoteker




Batasan Apoteker Dalam Melakukan Swamedikasi
Apoteker dapat mencari beberapa informasi yang diperlukan untuk mengetahui apakah pasien dapat diswamedikasi atau dirujuk kedokter. Pencarian informasi oleh apoteker dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa pertanyaan yang mengacu pada hal-hal yang digunakan sebagai pertimbangan antara lain gejala yang terlihat pada tingkat keparahan ringan dari pasien berupa kulit yang berubah warna dengan batasan yang jelas, gatal, memerah dan tanpa luka; apabila infeksi yang diderita pasien tidak lebih dari 2 tempat dengan jumlah yang sedikit; atau pasien menggunakan obat sebelumnya dengan rentang waktu yang kurang. Swamedikasi yang bisa diberikan kepada pasien adalah KIE mengenai terapi non-obat dan pemerian obat OTC (Over The Counter) (Blenkinsopp et al., 2014).

Kondisi Infeksi Jamur Pada Kulit yang Memerlukan Rujukan ke dokter
Selain memberikan informasi mengenai terapi non-farmakologi dan pemberian obat OTC, keputusan apoteker dalam menyarankan pasien untuk dirujuk ke dokter tidaklah salah. Beberapa petimbangan yang dapat digunakan oleh apoteker dalam menyarankan pasien agar berobat kedokter yaitu;
  • Penggunaan obat yang tidak menghilangkan keluhan/ gejala selama/ setelah lama waktu pengobatan yang telah dianjurkan.
  • Adanya infeksi sekunder oleh bakteri pada areal infeksi jamur yang dapat menyebabkan keluarnya air, nanah dan kulit kering berwarna kuning yang dapat menghambat pengobatan infeksi.
  • Keparahan dari infeksi jamur. Apabila infeksi tidak terlalu besar dan sedikit maka bisa digunakan topikal antijamur, namun apabila infeksi terlalu luas dan banyak dapat dianjurkan ke dokter. Misalnya pada pengidap infeksi tinea pedis apabila infeksi luas hingga 4 sampai 5 jari kaki bisa dianjurkan untuk ke dokter.
  • Infeksi jamur yang perlu menggunakan obat antijamut oral (diminum)
  • Pasien yang memiliki komplikasi penyakit, misalnya Diabetes Melitus
 (Blenkinsopp et al., 2014).

Luaran/Monitoring
Pada infeksi yang terjadi pada kulit, pasien harus merasakan adanya pengurangan/hilangnya keluhan/gejala termasuk gatal-gatal, bersisik dan bengkak. Terapi obat dilanjutkan selama 1 minggu setelah gejala hilang. Apabila gejala tidak hilang/ semakin memburuk dengan penggunaan obat topikal/oles, pasien dirujuk kedokter untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut.
Gejala Infeksi jamur pada kuku biasanya hilang lebih lambat. Infeksi pada kuku membutuhkan waktu 1 bulan lebih agar bisa lebih baik, sehingga apoteker dapat memberikan informasi kepada pasien agar tidak menjadi pikiran berlebih karena lambatnya pengobatan. Apoteker juga harus memberitahukan pasien bahwa walaupun infeksi pada kuku sudah sembuh, kuku tidak akan terlihat lebih normal (Burns et al., 2016)


Daftar Pustaka:

Blenkinsopp, A., P. Paxton., and J. Blenkinsopp. 2014. Symptomps in The Pharmacy: A Guide to Management of Common Illnes.  7th Edition. United Kingdom: Blackwell Publishing Ltd. 

Burns, M. A. C., T. L. Schwinghammer, B. G. Wells., P. M. Malone., J. M. Kolesar. and J. T. Dipiro. 2016. Pharmacotherapy: Principles and Practice. 4th Edition. New York: McGraw-Hill Education.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar